Bertualang Seru ke Desa-Desa Bali Aga

245 views

Sekian dari hal yang sangat ngangenin di Bali ialah suasana pedesaannya yang damai dan penuh dengan kesan, berikut keseharian warga desa serta kecantikan budayanya. Meskipun sudah diterpa gelombang modernisasi, terdapat beberapa daerah di Bali yang mampu mempertahankan adat dan budaya leluhur yang sudah berabad-abad sebagai identitas mereka. Inilah desa-desa adat Bali Aga (suku orang Bali), masyarakat yang disebut sebagai warga asli Bali. Tidak ada salahnya berkunjung menuju tiga desa adat dibawah ini:

Desa Adat Panglipuran

Kira-kira satu jam dari Ubud, ada desa adat yang jadi favorit turis asing, yakni Desa Panglipuran. Desa indah ini tersusun begitu rapih dan terawat, pada rumah-rumah berarsitektur asli Bali yang tertata rapi. Jalanan utama berbatu tampak selaras pada gaya bangunan-bangunannya. Jalanan ini menanjak, membagi desa jadi tiga negara. Gerbang, atap, dinding, serta angkul-angkul (pintu kecil didepan rumah) di Desa Panglipuran dibuat seragam juga rapi. Malah, tata ruang didalam rumahnya pun sama persis. Oh iya, di desa ini terdapat pura juga yang jadi tempat ibadah warganya, yakni Pura Penataran.

Sekarang, desa dengan luas 112 ha ini terdiri dari 76 kavling, dan satu diantaranya diprediksi berusia 270 tahun! Kira-kira 40% lahan desa dipergunakan menjadi kebun bambu. Meskipun luas, tur di desa adat itu dijamin takkan membuatmu capek. Kehidupan yang adem dengan panorama menawan seolah-olah sebagai “makanan jiwa” buat kamu yang cari kedamaian. Manalagi penduduk di Desa Panglipuran amat ramah dan sering mempersilakan turis minum teh di rumah mereka.

Jika mau berkunjung ke desa yang ada di kabupaten Bangli ini, kami anjurkan datang sesaat sebelum Hari Raya Galungan, yang dirayakan 6 bulan sekali. Ketika hari raya itu, Bali lagi berdandan cantik dengan terdapatnya penjor dirumah-rumah. Desa Panglipuranpun terkesan menawan, apalagi pada hadirnya gadis-gadis bali berkebaya yang menghantarkan banten tuk bersembahyang. Nuansa khas Bali pun makin terasa. Oh iya, jika menyambangi Desa Panglipuran, kamu musti mencoba minuman tradisional yang amat populer disini, yakni Loloh Cemcem. Minuman yang berasa asam pedas begitu menyegarkan, sebab dibuat dari daun cemceman. Sehabis meminumnya, stamina dan energi kembali terisi!

Desa Adat Trunyan

Nah, satu ini spesial buat kamu yang punya nyali, atau yang penakut namun berusaha “melatih” nyali. Karena, Desa adat Trunyan yang ada di Danau Batur punya adat khas didalam mengurusi penduduknya yang wafat. Jenazah penduduk tak dikubur, akan tetapi diletakkan di tanah pohon Taru Menyan.

Meskipun kamu bisa mihat jelas jenazah serta sisa-sisa kerangka manusia, tak tercium bau apa pun di lokasi itu. Rahasianya berada di pohon Taru Menyan. Pohon itu konon menguasai kekuatan magis, hingga jenazah disekitarnya takkan mengeluarkan aroma danur. Para turis pun kerap mengabadikan kunjungannya secara berfoto “bareng” tengkorak-tengkorak yang tertata disekitar pohon.

Disamping bagian mistis yang melingkupi Desa Trunyan, panorama disini sebenarnya amat indah. Megahnya Gunung Batur melatar belakangi keeksotisan Danau Batur. Bila cuaca lagi cerah, kamu bakal memperoleh view paling baik. Jika mau menyambangi Trunyan, kamu musti menyeberangi Danau Batur naik perahu. Pengunjung yang datang kesini biasanya bersantai di tepi Danau Batur ataupun mendaki Gunung Batur.

Desa Adat Tenganan

Desa Tenganan ada di kabupaten Karangasem, berdekatan Candidasa. Bila berwisata kesini, bersiaplah tuk terbuai dengan kehidupan damai khas desa-desa Bali. Pasalnya, warga di desa ini punya peraturan ketat dalam memprotek hutan yang dinamakan hutan adat. Awig awig (hukum adat) yg mengatur pengelolaan hutan, tergolong penebangan pohon, berlaku amat ketat. Awig awig itu sudah mereka tuliskan semenjak abad 11 dan diperbarui tahun 1842. Jadi, tidak heran bila desa ini sangat asri dan alami sejuknya.

Warga Desa Tenganan ramah kepada turis, dan kerap mengajak turis masuk rumah tuk melihat rumah serta pernak-pernik khas Bali lain. Mereka dengan bahagia menjelaskan filosofi hidup orang-orang Bali, khususnya penduduk Desa Tenganan. Tidak sedikit dari mereka adalah seniman berbakat. Mereka suka menenun kain gringsing sendiri khas Bali yang melegenda itu. Kain ini cuma dibuat di Desa Tenganan. Disamping itu ada pula lukisan-lukisan kecil di daun lontar yang amat cocok dijadikan sebagai buah tangan.

Jika kamu mau berkunjung ke Desa Tenganan, bisa tempuh 1,5-2 jam trip dari Denpasar, ambil ke arah Bali Timur. Tidak hanya kunjungan ke desa, kamu juga boleh mendatangi banyak atraksi unik di kawasan ini semisal Pantai Pasir Putih, Istana Air Tirta Gangga, maupun Taman Ujung. Bila bisa, atur kedatangan ke Tenganan bulan Juni, sebab terdapat upacara adat Pesta Perang Pandan yang istimewa tuk disaksikan.

Tags: #Desa-Desa Bali Aga